Selasa, 05 Agustus 2014

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN MATEMATIKA
DI SEKOLAH


Tujuan pendidikan menurut UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan dari tingkat dasar sampai dengan tingkat lanjut untuk mencapai tujuan tersebut.  Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika. Oleh karena itu untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Dengan kata lain matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk menghadapi tantangan hidup yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Pada dasarnya tujuan mata pelajaran matematika di pendidikan dasar adalah supaya siswa mampu (1) memahami konsep dasar matematika, (2) melakukan penalaran, (3) memecahkan masalah matematika, (4) mengetahui aplikasi matematika dalam ilmu pengetahuan atau kehidupan, dan (5) menerapkan dalam kegiatan sehari-hari secara sederhana. Hasil Ujian Nasional tingkat SMP/MTs yang diumumkan tanggal 1 Juni 2013 diperoleh data nilai rata-rata ujian nasional untuk bidang studi matematika rendah, bahkan rata-rata terendah diantara bidang studi lain.   Hasil nilai yang rendah juga diperoleh pada kegiatan penilaian yang lain, seperti ulangan harian, ulangan semester dan semacamnya. Keadaan ini sangat ironis dengan kedudukan dan peran matematika untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan, mengingat matematika merupakan ‘raja’ dan ’pelayan’ ilmu dan  pengetahuan lain. Ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa ternyata matematika hingga saat ini belum menjadi pelajaran yang difavoritkan dan cenderung dianggap sulit di kalangan peserta didik. Ada beberapa penyebab fenomena ini, diantaranya  (1) metode pengajaran yang kurang tepat, kurang variasi dan kurang efektif, (2) peran guru dalam penguasaan materi dan keterampilan menyampaikannya kurang maksimal, (3) materi ajar yang terlalu sulit atau justru terlalu mudah, (4) sikap guru yang kurang bijaksana, seperti emosional, merendahkan siswa, tidak adil dan lainnya (5) siswa hanya dilatih mengerjakan soal-soal tanpa diiringi penguasaan konsep. Hal ini menyebabkan siswa kurang berminat, tidak tertarik dan merasa bosan mengikuti pelajaran ini sehingga tidak ada keinginan untuk mengerti, memahami dan menguasainya, siswa kurang aktif, kurang kreatif dan kurang inisiatif. Tentu saja ini akan berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
      Guru, khususnya guru matematika merupakan ujung tombak dalam mengatasi masalah-masalah ini. Diperlukan guru yang ideal, guru yang benar-benar menguasai materi ajar, piawai dalam menyampaikan materi, bijaksana dan jeli melihat kemampuan siswa serta menggunakan metode pengajaran yang variatif. Dalam menyampaikan materi, misalnya, hendaknya juga diselingi dengan terapan-terapan matematika terkini baik dalam ilmu pengetahuan lain maupun dalam kehidupan, selain itu, perlu pula ada semacam ‘hiburan’, seperti permainan matematika yang terkait dengan materi, bahkan bisa pula dengan humor ( tentunya ada batasan ) dengan tetap menjaga wibawa guru. Alhasil dengan berbagai strategi ini, siswa akan antusias, kritis dan proaktif dalam mengikuti proses pembelajaran, rumus-rumus atau perhitungan-perhitungan yang tadinya sulit dan rumit menjadi lebih mudah dipahami sehungga secara tidak langsung akan  menjadikan  matematika sebagai pelajaran yang favorit., sehingga tujuan dari pembelajaran matematika akan tercapai dan akan berimbas baik pada prestasi belajar siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar